BeritaInvestigasiNews.id. Sulut,- Di balik ketegasan seorang perwira tinggi Polri dengan tiga bintang di pundaknya, tersimpan sisi seorang anak yang tak pernah hilang.
Momen penuh haru itu terlihat ketika Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol. Dr. Roycke Harry Langie, S.I.K., M.H., kembali ke tanah kelahirannya di Desa Pakuweru, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Senin (31/8/2026).
Baca juga: Diduga Terlibat Penikaman di Rumah Makan Matungkas, IT alias Isak Serahkan Diri ke Polsek Dimembe
Kepulangannya kali ini bukan untuk menghadiri seremoni besar ataupun menjalankan agenda kedinasan. Ia datang untuk mengenang dua sosok yang menjadi bagian paling penting dalam perjalanan hidupnya: ayah dan ibunya.
Di hadapan pusara kedua orang tuanya, sang jenderal terlihat menundukkan kepala. Perlahan ia mendekat, memberikan penghormatan, lalu mencium nisan.
Suasana berubah menjadi begitu emosional.
Air mata yang mungkin selama ini tertahan di balik ketegasan seorang pemimpin, akhirnya jatuh juga.
Di tempat itu, pangkat, jabatan dan tiga bintang di pundak seakan tak lagi memiliki arti. Yang tersisa hanyalah seorang anak yang datang menghadap pusara orang tuanya, mengenang kasih sayang, perjuangan dan doa yang pernah mengiringi setiap langkah hidupnya.
Ada perjuangan orang tua yang tidak selalu terlihat.
Ada doa yang tidak pernah terdengar.
Baca juga: Tongkat Komando Polda Sulut Segera Berganti, Brigjen Pol Yudho Hermanto Dipercaya Jadi Kapolda
Dan ada pengorbanan yang mungkin baru benar-benar terasa ketika seorang anak telah berdiri jauh dari rumah dan mencapai keberhasilan dalam kehidupannya.
Di hadapan makam ayah dan ibu, semua pencapaian seakan kembali pada satu titik sederhana: siapa yang pertama kali percaya dan mendoakan seorang anak untuk menjadi orang yang berguna.
Momen tersebut menjadi pengingat bahwa setinggi apa pun seseorang mendaki tangga kehidupan, akan selalu ada tempat di mana ia kembali menjadi dirinya sendiri.
Seorang anak.
Tiga bintang boleh menghiasi pundaknya. Jabatan boleh membawanya memimpin ribuan anggota. Namun di hadapan pusara orang tua, ketegaran seorang jenderal pun dapat luluh oleh kenangan.
Dari Pakuweru, sang Kapolda seolah menyampaikan pesan tanpa banyak kata:
“Setinggi apa pun jabatanmu, jangan pernah lupa kepada mereka yang pertama kali mendoakan langkahmu.”
Sebab orang tua mungkin telah pergi untuk selamanya, tetapi doa, kasih sayang dan teladan mereka akan tetap hidup dalam setiap langkah anak yang mereka tinggalkan.
Editor : Romeo