BERITAINVESTIGASINEWS.ID || SAMPANG — Kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan penganiayaan berat kembali menimpa seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) paruh baya asal jalan Pemuda Baru, Kelurahan Rongtengah, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, bernama Nurul Hasanah. Korban yang awalnya dijanjikan bekerja di Dubai justru dibuang ke negara konflik Libya, di mana ia mengalami penderitaan fisik berupa patah tulang tangan akibat kecelakaan kerja, penyiksaan berulang oleh majikan, serta penahanan izin pulang sebelum menyerahkan ganti rugi pemutusan kontrak sebesar 7.000 Dolar AS (sekitar Rp110 juta).
Melalui rekaman video berdurasi singkat yang mendadak viral di berbagai platform media sosial dan grup percakapan, Nurul Hasanah menyampaikan jeritan hatinya penuh derai air mata. Dalam video tersebut, wanita malang ini mengisahkan awal mula jebakan iming-iming janji manis dari seorang oknum sponsor yang memberangkatkannya ke luar negeri.
"Saya awalnya dijanjikan kerja di Dubai oleh sponsor Bakholis, tapi kenyataannya saya malah dibuang dan dipekerjakan di Libya," katanya.
Penderitaan Nurul semakin memprihatinkan setelah ia mengalami kecelakaan kerja di Libya yang mengakibatkan tulang tangannya patah. Pihak majikan di negara yang tengah dilanda konflik tersebut sama sekali tidak memberikan perawatan medis yang layak, melainkan tetap memaksanya bekerja keras melayani seluruh kebutuhan rumah tangga.
"Tangan saya patah dan sakit-sakitan, tapi tetap dipaksa bekerja. Saya juga sering dipukul dan cuma dikasih makan sehari sekali oleh majikan," ungkapnya.
Merasa keselamatan jiwanya terancam, Nurul memberanikan diri mengadukan nasibnya ke pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) setempat. Namun, harapan untuk mendapatkan perlindungan penuh dan segera dievakuasi justru menemui jalan buntu karena adanya syarat ganti rugi kontrak yang membebani finansialnya.
Baca juga: Kapolres Ponorogo Beri Kartu BPJS Ketenagakerjaan Untuk 97 PHL
"Saya sudah lapor ke KBRI tapi malah disuruh bayar ganti rugi 7.000 dolar kalau mau pulang, padahal saya tidak punya uang sebanyak itu," tuturnya.
Kondisi fisik dan mental yang kian memburuk membuat Nurul menggantungkan harapan terakhirnya kepada jajaran pemerintah daerah hingga pusat agar segera turun tangan menyelamatkan nyawanya. Ia mengaku sudah sangat putus asa dan diselimuti ketakutan mendalam jika tidak bisa berkumpul kembali bersama keluarga di tanah air.
"Tolong bantu saya Pak Bupati, Ibu Gubernur, dan Pemerintah Indonesia, saya ingin pulang ke Madura. Saya sangat takut tidak bisa bertemu keluarga lagi kalau meninggal di sini," pungkasnya.
Menanggapi video yang viral tersebut, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Sampang bergerak cepat untuk menindaklanjuti keluhan warga Kelurahan Rongtengah, Sampang tersebut.
Kepala Bidang Penempatan, Perluasan Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Disnaker Sampang, Uriantono Triwibowo, mengonfirmasi bahwa pihak keluarga telah datang melengkapi berkas administrasi dan kasus ini sudah diteruskan ke Kementerian Luar Negeri serta BP2MI untuk proses evakuasi.
Editor : Taufik