Beritainvestigasinews.id, Probolinggo - Ada yang getir dari wajah jurnalisme kita hari ini. Di tengah keberanian sebagian wartawan membongkar dugaan skandal dana hibah Jawa Timur, sebuah perjuangan yang mestinya kita sambut dengan hormat,justru muncul pemandangan memalukan: wartawan saling menuding, saling merendahkan, bahkan saling menghina.
Kalimat keji seperti “wartawan abal-abal bin goblok” dilontarkan dengan enteng, seakan profesi mulia ini hanyalah ajang olok-olok murahan. Sindiran sarkastik pun dilemparkan, menertawakan fisik orang lain. Lantas kita bertanya, di manakah nurani pers? Apakah kita sedang berjuang, atau sedang membunuh martabat kita sendiri?
Saat Pers Kehilangan Arah
Wartawan lahir untuk mengawal kebenaran. Ia ada agar rakyat punya suara. Ia berdiri di garis depan ketika penguasa tergoda menyalahgunakan wewenang. Namun, apa jadinya jika wartawan sibuk mencaci wartawan lain? Kebenaran akan tenggelam, publik kehilangan pegangan, dan profesi kita kehilangan kehormatan.
Lebih ironis lagi, ketika ada oknum jurnalis yang justru diduga melibatkan diri dalam praktik-praktik kotor, bahkan menjadi tameng bagi pelanggaran hukum. Bukankah itu berarti pers bukan lagi cahaya, melainkan bayangan gelap yang menakutkan?
Kemarahan Umar Hayat, Pimpinan Redaksi Berita-Compasnews, bukan sekadar reaksi personal. Itu adalah jeritan nurani, jeritan agar dunia pers segera berbenah. Ia menuntut permintaan maaf terbuka, dan jika perlu menempuh jalur hukum. Bukan karena gengsi, melainkan karena harga diri jurnalisme tidak boleh diinjak-injak.
Mari kita renungkan: profesi ini bukan tempat untuk adu ego, bukan panggung untuk melampiaskan amarah. Jurnalis sejati tahu, bahwa kata adalah doa, berita adalah amanah, dan integritas adalah segalanya.
Kita butuh pers yang bersatu, pers yang tegak berdiri, pers yang menolak tunduk pada tekanan dan tidak tergoda oleh iming-iming kekuasaan. Skandal hibah Jatim harus menjadi momentum untuk membuktikan bahwa pena masih tajam melawan ketidakadilan, bukan untuk menikam sesama.
Wartawan sejati tidak akan pernah menjual profesinya untuk kepentingan sesaat. Wartawan sejati akan menulis dengan hati, meski resikonya adalah ancaman, hinaan, atau bahkan kehilangan pekerjaan.
Karena pada akhirnya, hanya ada dua jalan:
Menjadi cahaya yang memberi arah, atau menjadi gelap yang menyesatkan.
Dan dunia sedang menunggu, ke arah mana pers Indonesia akan melangkah.
Red
Editor : Nugik Ramadhan