Makna Hari Raya Ketupat: Tradisi Syawal yang Sarat Filosofi dan Penguat Silaturahmi

Reporter : Redaksi

Beritainvestigasinews.id, Surabaya - Hari Raya Ketupat menjadi penutup rangkaian perayaan Idulfitri yang penuh makna bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Dirayakan pada hari ketujuh bulan Syawal, tradisi ini bukan sekadar perayaan kuliner, melainkan simbol mendalam tentang pengakuan kesalahan, keikhlasan, dan eratnya tali persaudaraan.

Ketupat, dengan anyaman janurnya yang rumit, mencerminkan kompleksitas kesalahan manusia. Sementara isi beras putih di dalamnya melambangkan hati yang bersih setelah saling memaafkan.

 Filosofi “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) dan “laku papat” (empat tindakan: lebaran, luberan, leburan, dan laburan) menjadi nilai utama yang diwariskan secara turun-temurun.

Momentum ini juga menjadi puncak tradisi silaturahmi. Masyarakat saling berkunjung, menyajikan hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, dan sambal goreng, dalam suasana hangat penuh kebersamaan. Tidak hanya mempererat hubungan keluarga, Hari Raya Ketupat juga memperkuat nilai gotong royong dan keharmonisan sosial di tengah masyarakat.

Di berbagai daerah, perayaan ini bahkan dikemas dalam bentuk festival budaya, kirab ketupat, hingga doa bersama sebagai ungkapan syukur atas nikmat dan keberkahan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan dan puasa sunnah Syawal.

Lebih dari sekadar tradisi, Hari Raya Ketupat adalah pengingat bahwa kebersihan hati dan keikhlasan dalam memaafkan merupakan fondasi utama dalam membangun kehidupan yang damai dan harmonis. Di tengah dinamika zaman, nilai-nilai luhur ini tetap relevan sebagai perekat persatuan bangsa.

 

Redaksi

Editor : Nugik Ramadhan

Investigasi
Berita Populer
Berita Terbaru