Personel Intel TNI AD Kodim Bolmong Frangky Nento Bantah Klaim Sebagai Anggota BIN: "Buktikan Kalau Saya Pernah Ngaku"

avatar Kaperwil Sulut Romeo

Beritainvestigasinews.id. Sulut,-Frangky Nento, personel intelijen TNI Angkatan Darat dari Kodim 1303 Bolaang Mongondow (Bolmong), menyampaikan kemarahannya atas pemberitaan sejumlah media yang menyebut dirinya mengaku sebagai anggota Badan Intelijen Negara (BIN).

‎Dalam klarifikasi yang disampaikan pada Senin malam (9/6) di sebuah rumah kopi, Nento menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengaku sebagai anggota BIN kepada siapa pun, termasuk kepada wartawan berinisial MRN alias Nasution.

‎"Terus terang saya marah dan geram ditulis tentang sesuatu yang tidak pernah keluar dari mulut saya. Kalau saya salah, itulah yang ditulis. Bukan menulis hal yang tidak pernah keluar dari mulut saya," ujar Nento dengan nada tegas.

‎Ia bahkan menantang siapa pun yang bisa membuktikan bahwa dirinya pernah mengaku sebagai anggota BIN.

‎"Buktikan! Saya akan bayar kalau ada yang mampu membuktikannya. Kalau si Nasution mampu buktikan bahwa saya pernah ngaku BIN, silakan buktikan. Saya pasti bayar. Bicara BIN saja tidak, masakan saya ditulis BIN palsu," tegasnya lagi.

‎Menanggapi pertemuannya dengan Nasution di Swiss-Belhotel Manado, Nento membantah keras tuduhan bahwa dirinya menjebak wartawan tersebut. Ia mengklaim kehadirannya di tempat itu dalam kapasitas pribadi, membantu pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan yang mengaitkannya dengan aktivitas tambang ilegal.

‎"Saya kapasitasnya hanya mendampingi dan memberikan informasi yang benar kepada wartawan. Bukan jebak menjebak," ungkapnya.

‎Ia juga mengaku bahwa ini bukan kali pertama dirinya bertemu dengan wartawan Nasution, karena sebelumnya mereka sudah pernah berinteraksi di Bolmong.

‎Terkait pengamanan terhadap Nasution oleh pihak kepolisian di Manado, Nento menganggap hal itu sebagai bagian dari tugas aparat dalam menjaga kenyamanan dan ketertiban, terutama dalam situasi yang berpotensi konflik.

‎"Sebenarnya wartawan Nasution tidak ditangkap. Memang penawaran datang dari orang yang jadi korban pemberitaan. Wajar dong, orang yang duduk diam tiba-tiba diberitakan miring, tanpa konfirmasi, merasa diserang sepihak kemudian dengan segala upaya memulihkan nama baiknya," jelasnya panjang lebar.

‎Di sisi lain, Plt Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Utara, Vanny Loupatty, mengingatkan bahwa konflik seperti ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi semua insan pers.

‎"Tunjukkan profesionalitas dan integritas kita sebagai pelaku pers. Investigasi harus dilakukan secara utuh dan bertanggung jawab, bukan sepotong-sepotong lalu take down," ujar Loupatty yang akrab disapa Maemossa.

‎Ia menambahkan, praktik jurnalisme yang tidak profesional justru membuka celah kriminalisasi terhadap wartawan dan bisa menjadi preseden buruk bagi dunia pers ke depan.

Baca Juga: Jelang Operasi Patuh Lokon 2026, Irwasda Polda Sulut Tekankan Profesionalisme dan Pelayanan Humanis

Berita Terbaru