Harga Minyak Berpotensi Melonjak, Louis Schramm Ingatkan Pentingnya Penguatan Ekonomi Nasional

avatar Romeo

BeritaInvestigasiNews.id. Sulut,- Memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Ketegangan yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan energi dunia, khususnya di Selat Hormuz, dinilai dapat memberikan dampak luas terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sulawesi Utara, Louis Carl Schramm, SH., MH., menilai Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak dunia. Apabila terjadi eskalasi konflik yang berujung pada terganggunya akses pelayaran di kawasan tersebut, maka pasokan energi global berpotensi mengalami tekanan serius.

Baca Juga: Kapolri Tiba di Manado, Gubernur Yulius Selvanus dan Forkopimda Sulut Tunjukkan Kekompakan

“Situasi ini tentu perlu dicermati. Jika distribusi energi dunia terganggu, harga minyak mentah dapat melonjak signifikan dan memberikan tekanan terhadap perekonomian global,” ujar Schramm.

Menurutnya, dampak lanjutan dari kondisi tersebut dapat dirasakan langsung oleh Indonesia melalui peningkatan biaya energi dan potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Ketika rupiah tertekan, biaya impor akan meningkat dan berpengaruh terhadap berbagai sektor ekonomi nasional.

Karena itu, Schramm mendorong pemerintah untuk terus memperkuat langkah-langkah strategis melalui kebijakan fiskal dan moneter yang tepat, sekaligus mempercepat penguatan sektor produksi dalam negeri agar Indonesia semakin tangguh menghadapi dinamika ekonomi global.

Meski demikian, Schramm tetap optimistis Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut. Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia dinilai menjadi modal besar yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat posisi bangsa di tengah persaingan global.

Sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat industri berbasis sumber daya alam. Selain nikel, potensi di sektor baja dan mineral strategis lainnya juga diyakini mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: Yulius Selvanus Percayakan Rico Lasut Pimpin Perindag Sulut, Bukti Komitmen Perkuat Pelayanan dan Kesejahteraan ASN

“Kita memiliki kekuatan yang luar biasa. Indonesia mempunyai sumber daya alam yang melimpah dan ini menjadi keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki banyak negara. Dengan pengelolaan yang tepat, kita bisa menjadi pusat produksi dan industri yang diperhitungkan dunia,” tegasnya.

Schramm juga menekankan pentingnya percepatan program hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah komoditas nasional. Menurutnya, manfaat ekonomi dari kekayaan alam Indonesia harus semakin dirasakan oleh masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, dan pertumbuhan industri yang berkelanjutan.

Selain itu, kawasan-kawasan strategis seperti Batam dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat industri dan distribusi nasional yang mampu menarik lebih banyak investasi global.

Lebih jauh, Schramm mengaitkan momentum ini dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Menurutnya, tantangan global yang terjadi saat ini justru harus menjadi pemicu untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan mempercepat transformasi industri nasional.

Baca Juga: Demo Mahasiswa di DPRD Sulut Berakhir Ricuh, Water Cannon dan Gas Air Mata Bungkam Aspirasi

“Krisis global tidak boleh membuat kita pesimis. Sebaliknya, ini harus menjadi momentum untuk memperkuat ekonomi nasional, mengembangkan industri hilir, dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat dunia,” katanya.

Ia optimistis, dengan pengelolaan sumber daya alam yang terarah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta konsistensi dalam menjalankan program hilirisasi, Indonesia tidak hanya mampu menghadapi berbagai gejolak global, tetapi juga berpeluang tampil sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama dunia pada 2045 mendatang.

“Indonesia memiliki semua modal untuk menjadi bangsa yang mandiri, maju, dan berdaulat secara ekonomi. Tantangan yang ada hari ini harus kita jadikan peluang untuk melangkah lebih cepat menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Schramm.

Berita Terbaru