BERITAINVESTIGASINEWS.ID || SAMPANG — Puluhan siswa TK Nurul Hidayah menggelar kegiatan kunjungan edukatif ke kawasan tambak garam di Pengarengan, Kabupaten Sampang, guna mengenalkan profesi petani garam serta proses produksi komoditas lokal tersebut secara langsung kepada anak usia dini. Kegiatan ini digagas bersama pengusaha garam asal Pengarengan, Aufa Marom, yang sekaligus memperkenalkan buku edukasi anak bertajuk "Kisah Dari Pantai: Petualangan Garam dari Laut" sebagai sarana pembelajaran interaktif bagi siswa tingkat TK dan SD.
Pengusaha Garam asal Pengarengan, Aufa Marom menerangkan bahwa penyusunan buku edukasi ini sengaja dirancang khusus dengan visual yang interaktif serta ramah anak guna mempermudah pemahaman pelajar usia dini. Langkah tersebut diambil sebagai sarana edukasi kreatif untuk membangun semangat serta motivasi lahirnya generasi insinyur garam lokal sejak dini.
Baca Juga: PT Garam Buka Suara Soal Rencana Pembangunan Pabrik Garam MVR di Sampang
"Kami merancang buku edukasi ini dengan pendekatan visual yang menarik agar anak-anak tingkat TK dan SD dapat memahami proses pembuatan garam secara menyenangkan dan tidak membosankan," katanya.
Lebih lanjut, Aufa Marom menjelaskan bahwa dalam materi tersebut proses pembuatan garam digambarkan secara bertahap melalui karakter ilustrasi menarik seperti Tetes Air dan Butir Garam. Tahapan diawali dari penampungan air laut di tambak dekat pantai, lalu dialirkan secara perlahan melalui beberapa petak tambak agar kotoran mengendap secara alami hingga cairan menjadi semakin pekat.
Baca Juga: Lewat Program 'Garam Peduli Pendidikan', PT Garam Salurkan Bantuan Tas Sekolah di Desa Sejati
"Melalui karakter ilustrasi Tetes Air dan Butir Garam, anak-anak diajak mengikuti alur air laut yang dialirkan berjenjang hingga mengendap dan mengkristal menjadi garam," ungkapnya.
Aufa Marom menegaskan bahwa sarana edukasi lapangan dan buku interaktif ini tidak hanya mengajak anak-anak mengenal fenomena proses alam semata. Kegiatan ini dirancang agar para siswa dapat memahami dan menghargai secara aplikatif bagaimana nilai kerja keras yang dicurahkan para petani garam di lapangan.
"Kami ingin para siswa tidak sekadar belajar teori alam, tetapi juga melihat dan memahami langsung bagaimana kerja keras para petani garam di lapangan," ujarnya.
Ia berharap kehadiran buku edukasi garam ini dapat terus menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi pada diri anak-anak sejak usia dini. Melalui edukasi maritim sejak awal, diharapkan kelak lahir generasi penerus bangsa yang senantiasa menghargai dan memajukan potensi kekayaan maritim lokal.
Editor : Taufik