Beritainvestigasinews.id, Sidoarjo, - Setiap hari kemacetan selalu dikeluhkan oleh para pengendara roda dua dan roda empat di Sidoarjo harus berhadapan dengan kemacetan yang menghambat perjalanan mereka. Terutama di jalan Taruna Wage yang menjadi jalur vital menuju jalan Aloha dan Surabaya melalui Bungurasih. Keluhan ini mengemuka karena lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) yang menempati trotoar. Alhasil mengakibatkan penyempitan ruang bagi pengendara dan menyebabkan kemacetan yang tidak terhindarkan.
Urat nadi perempatan Wage memang menjadi titik strategis karena merupakan tempat berkumpulnya PKL yang menjajakan barang dagang mereka sepanjang hari. Namun, kesemrawutan terjadi ketika lapak-lapak PKL tersebut memenuhi bahu jalan, bahkan hingga menutupi selokan air. Para pembeli, terutama yang menggunakan sepeda motor, terpaksa berhenti di tengah jalan karena tidak tersedianya tempat parkir yang memadai.
Baca Juga: Saat Lampu Biru Menyala, Patroli Harkamtibmas Polsek Semampir Dimulai
Menurut informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber, keberadaan PKL di jalan Taruna Wage tidak didukung oleh penataan yang baik. Sebagian besar pedagang mengaku bahwa ada sistem pembayaran karcis harian sebesar Rp 1000 kepada ketua paguyuban PKL setempat. Meskipun demikian, tidak pernah ada upaya penertiban atau himbauan dari pihak berwenang terhadap PKL yang menempati ruang publik ini.

Bertambah banyaknya pedagang justru tidak di barengi oleh penataan PKL. Padahal dari nara sumber pedagang yang tidak mau disebut namanya berinisial N, tiap hari ada karcis yang di tarik dari RT. Sebenarnya PKL ini ada paguyubannya mulai dari pagi ada pengatur jalan jam 5.00 WIB sampai jam 9.00 WIB.
Untuk penarikan karcis ada dua orang karena di bagi dua RT, RT 07 dan RT 01. Ketua Paguyuban juga ada dan semua dapat pembagian hasil dari penarikan karcis, baik RT, RW, maupun ketua Paguyuban PKL jalan Taruna. Namun tak pernah ada yang namanya penertiban maupun himbauan kepada PKL yang menempatkan lapaknya di bahu jalan. Seakan pembiaran dan terkesan cuek dan hanya penggambil untung saja, ungkap N Kamis (16/5/2024 ).
Seorang pengendara mobil dari Desa Kedung Turi mengeluhkan kondisi ini. Pengendara berinisail MB menyebut bahwa keberadaan PKL yang maju jualannya dan minimnya penertiban telah menyebabkan kemacetan yang kian menjadi-jadi.
Saya harap pemerintah segera bertindak tegas untuk menertibkan PKL yang menempati bahu jalan ini. Jalan Taruna harus bersih dari gangguan-gangguan semacam itu, ujarnya.
Baca Juga: Satresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak Tangkap Pengedar Sabu di Sidoarjo
Dalam konfirmasi terpisah, tokoh masyarakat setempat UA juga mengungkapkan bahwa pembagian hasil dari penarikan karcis pasar dilakukan secara bersih dan terstruktur. Namun, ia juga mengharapkan agar penegakan aturan segera dilakukan untuk mengatasi kemacetan yang meresahkan warga sekitar.
Saya tahu dari tarikan karcis pasar, di bagi dua RT. RT 07 mendapat nilai bagian banyak 65% karena PKL juga banyak, dan Rt 01 kebagaian 35%nya. Dan itu sudah bersih sesudah untuk pembayaran pengatur lalin 1 orang, dan 2 penarik karcis. Juga untuk ketua Paguyuban PKL, juga Rw 07 mendapat Rp 80.000 tiap bulannya untuk kas. Saya harap sebelum menjadi bom waktu macet yang berkepanjangan segera baik Satpol PP Kabupaten, dan Dishub Sidoarjo segera menertibkan dengan tegas. Sebenarnya banyak pengendara yang mengeluh baik pagi, sore, dan malam selalu macet. Jalan Taruna harus bersih dari PKL yang menempatkan lapaknya di bahu jalan ujarnya, ujar UA.
Ketua RT.01 setempat juga menyuarakan harapan serupa, menekankan pentingnya kebersihan lingkungan dan kenyamanan warga sebagai prioritas utama.
Kami berharap PKL yang ada di wilayah RT 01 terutama di bahu jalan harus bersih karena menambah semrawut, dan untuk kenyamanan lingkungan warga, tandasnya.
Penyelesaian masalah kemacetan di jalan Taruna Wage membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat setempat. Dengan langkah-langkah yang tepat. Semoga kemacetan yang telah menjadi momok bagi pengguna jalan dapat diatasi. Sidoarjo menjadi lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi semua pihak.
Susy
Editor : Redaktur