[caption id="attachment_62191" align="aligncenter" width="1080"]
Foto: Warga binaan mengibung (makan bersama) seusai mebat (potong hewan). Sumber: Lapas Kerobokan.[/caption]
Beritainvestigasinews.id, Kerobokan, Bali, - Menjelang Hari Raya Suci Galungan, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA/Lapas Kerobokan menggelar kegiatan Mebat, kegiatan yang dilaksanakan di Pura Padmasari Lapas Kerobokan ini, diikuti oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang beragama Hindu, pada Selasa (24/9/2024).
Baca Juga: Keluarga Besar Staf dan Redaksi Media Beritainvestigasinews.id Mengucapkan Selamat Tahun Baru 2025
Kegiatan Mebat adalah tradisi kebersamaan laki-laki Bali dalam penyelenggaraan hidangan-hidangan dan persiapan untuk upacara keagamaan yang sering dilaksanakan setiap 210 hari.
Kepala Lapas Kerobokan/Kalapas Kerobokan, RM. Kristyo Nugroho menjelaskan, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pembinaan kepribadian bagi warga binaan yang beragama Hindu.
[caption id="attachment_62195" align="aligncenter" width="1080"]
Foto: Kesiapan penabuh gong untuk acara galungan besok.[/caption]
“Kami memberikan ruang bagi warga binaan untuk tetap melestarikan salah satu budaya yang ada di Bali, yaitu Mebat. Melalui momen ini, diharapkan warga binaan dapat memupuk kebersamaan dan persaudaraan baik antar warga binaan maupun petugas,” jelas Kristyo.
Menanggapi kegiatan tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Bali, Pramella Yunidar Pasaribu mengapresiasi kepada jajaran Lapas Kerobokan yang telah berupaya melestarikan tradisi Mebat yang merupakan budaya Bali, serta mendorong warga binaan untuk aktif mengikuti program pembinaan kepribadian di Lapas.
“Kegiatan Mebat bertujuan untuk memupuk rasa kebersamaan dan rasa persaudaraan, karena dampak dari dunia modern dan perkembangan jaman Teknologi Informasi, budaya mebat semakin lama akan semakin surut, budaya megibung pun juga semakin jarang terlihat. Untuk itu melalui kegiatan ini, selain tetap melestarikan tradisi tentunya juga memunculkan rasa kebersamaan dan persaudaraan", tuturnya.
(Juli)
Editor : Juli Kaperwil Bali