Beritainvestigasinews.id, Probolinggo – Dunia jurnalisme kembali diguncang! Di tengah aksi heroik sejumlah wartawan yang dengan gagah berani membongkar dugaan skandal dana hibah Jatim justru muncul gelombang pembunuhan karakter yang memalukan dilakukan oleh sesama insan pers sendiri. Ironis, ketika pena yang seharusnya menulis kebenaran justru berubah jadi senjata yang melukai kawan seprofesi.
Sejumlah kalimat tajam bertebaran di ruang publik, menyudutkan wartawan yang selama ini dikenal vokal dan berani. Bahkan, muncul ungkapan bernada menghina seperti, “wartawan abal-abal bin goblok,” yang disematkan kepada jurnalis yang tengah berjuang mengungkap kebusukan dana hibah Jatim. Lebih parah lagi, komentar sinis juga diarahkan kepada ajudan pejabat yang diduga menghalangi tugas jurnalistik, dengan candaan sarkastik, “meskipun ajudannya badannya kayak halte gitu.”
Sontak reaksi keras pun datang dari kalangan jurnalis sejati. Umar Hayat, Pimpinan Redaksi Berita-Compasnews.com, angkat bicara dengan nada tegas namun sarat keprihatinan, 27/09/2025.
“Beda pandangan itu sangat wajar, tapi bukan berarti kita boleh saling menjelekkan, apalagi menghujat kawan seprofesi. Kalau sesama wartawan saling serang dan mencoreng marwah jurnalisme, "lebih baik berhenti jadi wartawan” Ujarnya geram.
Menurut Umar, profesi wartawan bukan panggung untuk adu ego, tapi ladang perjuangan untuk menjaga nurani bangsa. Ia mengingatkan, jurnalis punya fungsi kontrol sosial yang dilindungi undang-undang, bukan sekadar pemburu sensasi atau perisai kepentingan gelap.
“Sungguh memalukan jika ada wartawan yang malah menjadi perisai perbuatan melanggar hukum, seperti dugaan keterlibatan dalam praktik minuman keras ilegal. Itu bukan hanya mengkhianati profesi, tapi juga merusak generasi penerus bangsa,” Tambahnya dengan nada getir.
Umar menegaskan bahwa wartawan sejati harus berdiri di sisi kebenaran, bukan tunduk pada tekanan, bukan pula menjadi alat untuk membungkam kawan yang kritis. Dunia pers harus menjadi cahaya, bukan bayangan gelap dari kepentingan kotor. Seharusnya Pimpinan Redaksi harus memecat wartawan yang tidak kompeten karena mencoreng nama baik media yang diampu.
Katanya lagi," Kami Direktur Utama Berita - Compasnews.com meminta Oknum wartawan yang mengatakan Abal - Abal bin goblok tersebut melakukan permintaan maaf secara terbuka dan diskusi publik karena Kami tidak terima bila wartawan kami dikatakan Abal - Abal karena tidak berdasar , dalam waktu singkat bila tidak ada itikad baik maka kami akan menempuh jalur hukum".
Aksi heroik membongkar skandal dana hibah Jatim seharusnya menjadi momentum pers bersatu, bukan ajang saling sikut. Karena ketika pena melawan pena, maka kebenaran bisa tenggelam di lautan ego dan keserakahan.
Kini, publik menanti jurnalis harus kembali pada marwah sucinya atau tenggelam dalam kubangan konflik internal yang mencoreng kehormatan profesi.
Catatan Redaksi:
Perbedaan pendapat antar wartawan adalah hal wajar dalam dinamika pers. Namun, menghina dan membunuh karakter kawan seprofesi adalah tindakan yang mencederai semangat kebebasan pers dan integritas jurnalistik itu sendiri.
Rohman
Editor : Nugik Ramadhan