DPRD Sampang Upayakan Mediasi Konflik RS Nindita dan Pasien Terkait Dugaan Trauma Pasca Operasi

avatar Berita Investigasi
Foto: Saat Awak Media Wawancara Ketua Komisi IV DPRD kabupaten Sampang Mahfud
Foto: Saat Awak Media Wawancara Ketua Komisi IV DPRD kabupaten Sampang Mahfud

Beritainvestigasinews.id || Sampang – Komisi IV DPRD Kabupaten Sampang mulai turun tangan menengahi konflik yang terjadi antara Rumah Sakit (RS) Nindita dengan pihak pasien yang didampingi Forum Madura Bersatu (Formabes). Langkah ini diambil menyusul adanya perbedaan keterangan yang tajam di antara kedua belah pihak terkait penanganan medis pasca operasi yang kini tengah menjadi sorotan publik.

Ketua Komisi IV DPRD Sampang, Mahfud, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil audiensi awal, akar permasalahan ini diduga kuat bermula dari miskomunikasi. Ia menilai kesalahpahaman tersebut kemudian berkembang luas dan memicu reaksi beragam di tengah masyarakat, sehingga diperlukan penanganan yang cepat dan tepat agar tidak semakin melebar. Senin (12/01/2025)

Baca Juga: Polres Jember Mediasi Warga Yang Blokade Jalan Raya Puger, Arus Lalulintas Kembali Normal

Dalam keterangannya, Mahfud menjelaskan bahwa pihak RS Nindita mengklaim telah menjalankan prosedur pasca operasi sesuai standar. Pihak rumah sakit menyatakan telah menawarkan berbagai layanan lanjutan, mulai dari perawatan luka hingga kontrol rutin secara cuma-cuma kepada pasien yang bersangkutan untuk menjamin proses pemulihan.

"Bahkan, sebagai bentuk tanggung jawab profesional, RS Nindita menyatakan kesiapan mereka untuk memfasilitasi antar-jemput pasien menggunakan kendaraan operasional rumah sakit. Upaya ini diklaim dilakukan demi memastikan pasien mendapatkan perawatan yang optimal tanpa terkendala akses transportasi menuju rumah sakit."jelas Mahfud 

Baca Juga: Kades Suka Damai Melakukan Mediasi Permasalahan Batas Lahan Hak Milik

Namun, pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan fakta yang disampaikan oleh pihak keluarga melalui Mat Hari dari Forum Madura Bersatu (Formabes). Saat diwawancarai awak media, Mat Hari menegaskan bahwa kendala utama saat ini bukanlah masalah fasilitas, melainkan kondisi psikologis pasien yang mengalami trauma mendalam pasca operasi.

Mat Hari menjelaskan bahwa trauma tersebut membuat pasien merasa enggan dan takut untuk kembali menjalani perawatan lanjutan di RS Nindita. Hal inilah yang dinilai menjadi titik sumbat komunikasi, di mana tawaran bantuan dari pihak rumah sakit tidak dapat diterima dengan baik oleh pasien karena faktor tekanan mental yang dialami.

Baca Juga: Polresta Banyuwangi Berhasil Mediasi Konflik Pemetikan Kapuk di Wongsorejo

Menanggapi situasi yang kian pelik ini, Komisi IV DPRD Sampang berkomitmen untuk segera memfasilitasi ruang diskusi dan mediasi secara formal. Mahfud menegaskan bahwa pihaknya akan memanggil seluruh pihak terkait dalam waktu dekat agar duduk perkara ini menjadi terang benderang dan dapat diselesaikan secara bijaksana tanpa merugikan salah satu pihak.

Sebagai penutup, Mahfud menekankan bahwa solusi terbaik harus mengedepankan aspek kemanusiaan dan kesehatan pasien di atas segalanya."Fokus utama dari mediasi ini nantinya adalah memastikan pasien mendapatkan penanganan medis yang layak hingga kondisinya kembali normal, sekaligus mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di Kabupaten Sampang."pungkasnya

Editor : Taufik

Berita Terbaru