[caption id="attachment_65229" align="aligncenter" width="1080"]
Foto: Sejumlah sampah plastik yang ditemukan di selat Madura. Sumber: BRUIN.[/caption]
Beritainvestigasinews.id, Surabaya, Jatim, - Bertepatan dengan momen kegiatan Clean Up yang dilakukan oleh organisasi TCC (Trash Control Community), tiga orang peneliti sampah plastik Badan Riset Urusan Sungai Nusantara (BRUIN) berkesempatan melakukan audit sampah di kawasan pesisir pantai utara kota Surabaya, kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu (12/10/2024) lalu.
Baca Juga: Keluarga Besar Staf dan Redaksi Media Beritainvestigasinews.id Mengucapkan Selamat Tahun Baru 2025
Dengan berbekal karung, beberapa sarung tangan dan alat penjapit sampah, peneliti sampah plastik BRUIN mengumpulkan sedikit demi sedikit sampah kemasan yang diambil dari celah batu dan timbunan pasir pantai Kenjeran Surabaya. Sampah yang terkumpul kemudian dilakukan identifikasi karakteristik sampahnya untuk dibedakan merk, asal produsen, tipe produk,tipe material dan jenis lapisan penyusun plastiknya.
"Fenomena surutnya pesisir pantai utara Surabaya menjadi hal menarik bagi kami,fenomena surutnya air laut juga memunculkanfenomena sampah kemasan makanan,minuman dan sabun berserakan dicelah batu dan terkubur pasir dipantai. Kemudian kqmi mengumpulkan beberapa karung sampah sachet dan botol minuman produsen lokal dan multinasional seperti Wings, Indofood, Unilever, Santos Jaya Abadi, dan Mayora. Kemudian kami lakukan identifikasi karateristik sampahnya dwngan menggunakan beberapa metode untuk dapat dilihat sampah produsen mana yang paling banyak mencemari kawasan pesisir utara Surabaya," ujar Dhito Maulana, S.Pi., Peneliti plastik Bruin.
Alumni Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura yang juga sedang fokus mengkaji kondisi kualitas air muara kali Surabaya menambahkan, Fenomena sampah plastik didasar dan celah-celah batu memberikan fakta bahwasanya sampah plastik yang dibuang sembarangan akan bocor ke lingkungan dan kemudian akan berakhir ke lautan. Dengan berjalannya waktu sampah-sampah tersebut akan menjadi penyebab rusaknya ekosistem dan biota laut selat Madura dan sekitarnya.
Rusaknya Ekosistem Perairan serta resiko kontaminasi hasil tangkapan nelayan.
"Selama 4 tahun berkuliah di Madura, saya familiar dengan nelayan yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut diselat Madura dan pesisir pantai utara Surabaya. Jika polusi plastik terus mencemari kawasan laut,tudak dipungkiri bahwa selain merusak estetika kawasan wisata pantai, hasil tangkapan nelayan yang selama ini menjadi konsumsi masyarakat juga berpotensi terkontaminasi mikroplastik dan senyawa kimia berbahaya, jika dibiarkan hal tersebut akan berbahaya bagi kesehatan," ujar Reza Mudawam, S.Pi., Peneliti Mangrove dan Biota Air Hilir Bengawan Solo.
[caption id="attachment_65230" align="aligncenter" width="1080"]
Foto: Gen Z dan warga setempat ikut serta.[/caption]
Dikutip dari jurnal ilmiah Program Magister Kesmas Universitas Airlangga Ayu Aulia menjelaskan bahwa sampah plastik dilautan yang kemudian berpotensi menjadi mikroplastik lewat degradasi alam memberikan benerapa dampak negatif diantaranya;1. Kontaminasi mikroplastik pada biota laut;2. Gangguan fisiologis pada biota laut;3. Kematian dan cedera pada satwa laut;4. Gangguan fotosintetis.
Pertanggung jawaban perusahaan untuk mengelola sampah kemasan yang sulit terurai oleh alam diatur dalam UU 18/2008 tentang pengelolaan sampah yang kemudian dijelaskan secara rinci lewat aturan turunan Permen LHK Nomor 75 Tahun 2019 tentang peta jalan pengurangan sampah oleh produsen.
"Fakta temuan dalam riset sensus plastik selama 3 jam lebih membeberkan fakta dimana Permen LHK 75/2019 tidak menjadi perhatian para produsen. Temuan tersebut menjadi bukti bahwa sachet akan masif diproduksi tanpa adanya upaya meredesain kemasan yang lebih ramah lingkungan sesuai amanat Permen LH tahun 2029, target 30% pengurangan plastik akan mustahil dicapai jika produsen tidaak segera merubah desain kemasannya menjadi ramah lingkungan dan segera merubah rantai pasok distribusinya lewat sitem guna ulang/refill," ungkap Muhammad Kholid Basyaiban, S.H., Legal dan koordinator sensus sampah BRUIN.
Beberapa temuan sensus sampah plastik dikawasan pesisir pantai utara Surabaya diantaranya;1. Identifikasi 510 pieces sampah plastik untuk tentukan 10 populer kawasan pantai utara Surabaya;2. Selain kemasaan baru, tim sensus juga menemukan sampah sachet yang diproduksi antara tahun 90 an, ini membuktikan butuh waktu jutaan tahun untuk mengurai plastik kemasan tersebut;3. Terdapat beberapa timbulan sampah,khususnya diwilayah bibir pantai Kenjeran,aktifitas membakar sampah juga masif diwilqyah tersebut;4. Kawasan padat penduduk pesisir pantai utara Surabaya belum mendapat akses pembuangan sampah yang memadai. Minim fasilitas pembuangan sampah dikawasan wisata dan pemukiman padat penduduk menjadi problem Pemkot Surabaya.
Dalam kegiatan yang dilaksanakan Dosen Antopologi Universitas Airlangga Ibu Lintang Nurmala menambahkan bahwa,
"Konservasi dan kampanye lingkungan, perlu peran maksimal pada anak-anak muda gen Z, dia punya potensi yang besar buat menginfluens lewat kampanye dan aksi-aksi kekinian dengan harapan semua masyarakat dapat meniru isu polusi plastik dapat teratasi," imbuhnya.
Susy
Editor : Juli Kaperwil Bali